Foto ini menggambarkan suasana kirab pelantikan salah seorang Bupati Lamongan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Terlihat rombongan warga dan abdi dalem berjajar panjang di sepanjang jalan, sebagian membawa tombak dan tameng bundar sebagai pengawal,sementaraditengahbarisanadatungganganyangdihiaslengkapdenganpayung dan pratanda kebesaran. Kirab semacam ini memang lazim dijumpai pada seremoni pelantikanpejabatpribumidikabupaten-kabupatenpesisirutaraJawawaktuitu,jadibukan sesuatu yang unik hanya terjadi di Lamongan saja.
KalauditelusurilebihjauhlewatbukuSejarahLamongandariMasakeMasa,ternyataada sedikit kejanggalan pada tokoh yang disebut dalam foto ini. Buku tersebut mencatat R. AdipatiJoyoDironomenjabatBupatiLamongantahun1885-1908.Setelahnyasempat ada
R.T. JoyoAdinegoroyangmenjabatsangatsingkat,hanyaditahun1908itujuga,dengan
gelar Tumenggung. Baru kemudian R. Adipati Aryo Joyo Adinegoro menjabat sebagai Adipati dari 1908 sampai 1937. Melihat urutan ini, kemungkinan besar Djojo Dirono dan DjojoAdinegoroadalahduaorangyangberbeda,bukansatuorangyangsekadarnaikgelar seperti yang sering ditulis di internet (termasuk Wikipedia).
Yang membuat saya semakin yakin ada kekeliruan itu, sumberdaring biasanya menyebut tahun lahir tokoh “Djojo Dirono” adalah 1883, padahal kalau memang beliau sudah menjabatsejak1885,artinyausianyabaru2tahunjelastidakmasukakal.Jadidugaansaya, riwayat dua generasi (ayah dan penerusnya) sepertinya sudah tercampur jadi satu di sumber-sumberdaringtersebut.Kalaubegitu,fotokirabpadatahun1910inikemungkinan besar bukan pelantikan Djojo Dirono sang ayah (yang jabatannya sudah berakhir 1908), melainkan bagian dari pengukuhan penerusnya sebagaiAdipati, yang mungkin saja tetap disebut dengan nama trah “Djojo Dirono” dalam ingatan masyarakat maupun label arsip. Untukmemastikannya,tentuperludiceklagimetadataaslidarikoleksiLeidenUniversity.
Selain soal identitas tokoh, buku UK2JT ini juga menyebutkan bahwa kedua bupati tersebut sama-sama berasal dari trah Kromojayan, yang memegang kekuasaan di Lamongan sejak 1863 sampai 1934, sebelum akhirnya digantikan keturunan trah Kasepuhan Surabaya, yaitu Raden Panji Moerid Tjokronegoro.
SUMBER:
Husain, Sarkawi B., Purnawan Basundoro, Gayung Kasuma, dkk. (2017). Sejarah Lamongan dari Masa ke Masa. Surabaya: Airlangga University Press. ISBN 978602-6606-21-1.
Sutherland, Heather (1975). “The Priyayi”. Indonesia, Vol. 19, hlm. 57–77. Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program. DOI: 10.2307/3350702.
Hasan, Nur (2012). “Corak Budaya Birokrasi pada Masa Kerajaan, Kolonial Belanda hingga di Era Desentralisasi dalam Pelayanan Publik”. Jurnal Hukum, Vol. XXVIII, No. 2, Desember 2012, hlm. 1073–1087. IAIN Walisongo / Unissula Semarang.
Digital Collections, Leiden University Libraries, koleksi foto “Kemeriahan Pelantikan Bupati (R. Adipati Djojo Dirono) di Lamongan Tahun 1910”, digitalcollections.universiteitleiden.nl.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan, koleksi reproduksi arsip foto “Kemeriahan Pelantikan Bupati (R. Adipati Djojo Dirono) di Lamongan Tahun 1910”.
