Toren air (menara air) yang berdiri di kawasan alun-alun Kota Lamongan merupakan bagiandarisistem waterleiding (jaringanairbersihperpipaan)kabupatenyangdibangunpada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Keberadaannya tidak lepas dari proyek besar penyediaan air bersih bagi Lamongan yang mulai dirintis sejak pertengahan dekade 1920-an.
Berdasarkan pemberitaan De Indische Courant edisi 19 Agustus 1924, pembangunan pipa induk (hoofdwaterleiding) untuk Lamongan telah memasuki tahap pelaksanaan. Sumber air diambildarimataairdiMantoep,yangdialirkanmelaluipipasepanjangsekitar18KMmenuju Lamongan.Untukmenunjangkoordinasipekerjaan,bahkantelahdipasangsambungantelepon antaraLamongandanMantoep.Proyekiniberadadibawahpengawasandinaspekerjaanumum kewedanaan (dienst van gewestelijke werken), dengan pengadaan material dipercayakan kepada firma Lindeteves Stokvis.
Setahun berselang, laporan De Indische Courant tanggal 24 Juli 1925 menyebutkan bahwa pembangunan saluran air Lamongan memasuki tahap penyelesaian akhir. Bagian yang tengah dirampungkansaatituadalahjaringanyangberfungsiganda,yakniuntukkebutuhanairbersih sekaligus persediaan air pemadam kebakaran (brandwater). Sistem distribusi bertekanan semacam ini lazimnya ditopang oleh menara air (watertoren) sebagai penampung sekaligus pengatur tekanan air, sehingga besar kemungkinan toren yang kini berdiri di alun-alun kota mulaidifungsikanpadaperiodeini.Menariknya,rencanaseremoniperesmianresmiproyekini justru dibatalkan karena minimnya antusiasme warga Lamongan terhadap acara tersebut.
Delapantahunkemudian, artikel DeIndischeCourant edisi13September 1933padarubrik
Oost-Java-Nieuws (bagian berita Bodjonegoro) mencatat bahwa Lamongan telah lama menikmati jaringan air bersih tingkat kabupaten (regentschaps-bronwaterleiding) yang berjalan baik, sekaligus telah memiliki penerangan jalan listrik. Kondisi ini dijadikan pembanding bagi Bodjonegoro yang pada masa itu masih berupaya merancang sistem serupa. Fakta ini menegaskan bahwa jaringan air Lamongan, yang menaranya kini menjadi salah satu penanda kawasan alun-alun kota, telah beroperasi secara mapan dan menjadi rujukan bagi daerah-daerah lain di Karesidenan Bojonegoro.
Toren air ini dengan demikian merupakan warisan infrastruktur kolonial dari proyek waterleiding Lamongan yang dirintis sejak 1924, dirampungkan sekitar 1925, dan telah terbukti beroperasi mapan setidaknya hingga awal dekade 1930-An
SUMBER:
De Indische Courant, berita Stadsnieuws Soerabaia, edisi Dinsdag 19 Augustus 1924, Derde Blad, Oost-Java Editie.
De Indische Courant, berita "Stadsnieuws" bagian "De waterleiding van Lamongan", edisi Vrijdag 24 Juli 1925.
De Indische Courant, "Oost-Java-Nieuws" bagian berita Bodjonegoro "Bron-waterleiding voor Bodjonegoro", edisi Woensdag 13 September 1933, Vierde Blad.
