Waduk Gondang terletak di dua desa, yakni Desa Gondang Lor dan Desa Deket Agung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, sekitar 25 km ke arah barat dari pusat Kota Lamongan. Pembangunannya berlangsung sekitar sepuluh tahun (1976–1986) dengan membebaskan lahan seluas ±712 Ha, terdiri dari 110 Ha milik Perhutani dan sisanya milik penduduk, sehingga 800 kepala keluarga dari empat desa di Kecamatan Sugio harus dipindahkan.Waduk ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Sabtu, 4April 1987, dengan luasgenangan6,60km²danvolumeefektif23.712.500m³,mampumengairiarealpersawahan seluas 10.651 ha. Selain sebagai sarana irigasi, secara lokal Waduk Gondang juga berfungsi sebagaipengendalibanjirbagidaerahLamonganyangrendahdanrawantergenangsaatmusim hujan.
Sejak 1992, memanfaatkan pemandangan alam dan latar pegunungan di sisi selatannya, Pemerintah Daerah Tingkat II Lamongan mulai mengembangkan Waduk Gondang sebagai objek wisata guna menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), menjadikannya objek wisata pertamadiKabupatenLamongan.Fasilitasdibangunbertahap:pendopo,saranabermainanak, dan wahana air (1992); mushola, toilet, dan gazebo (1997); lalu bumi perkemahan, tempat parkir, dan kebun binatang mini (2000). Kehadiran objek wisata ini membawa dampak sosialekonomi bagi warga sekitar berupa terbukanya lapangan kerja baru, meningkatnya pendapatan,danperbaikansaranajalan;matapencaharianpendudukpunbergeser,dari
mayoritas petani (94,74% pada 1991) menjadi banyak beralih berdagang di kawasan wisata (24,56% pada 1999).
Waduk Gondang tidak berdiri sendiri dalam sejarah pengairan Lamongan. Ia melanjutkan tradisi infrastruktur air di lembah Bengawan Solo yang dirintis sejak masa kolonial Hindia Belanda melalui proyek besar Solo Vallei Werken (disetujui 1893), yang semula dirancang mengairi hingga 100.000 hektar lahan di sepanjang Bojonegoro–Tuban–Lamongan–Gresik–Surabaya dengan anggaran 19 juta gulden, namun dihentikan pada 1898 karena biaya membengkak hingga 38 juta gulden. Gagasan itu kemudian diwujudkan secara lebih terbatas melalui pembangunan Waduk Pridjetan (kini Waduk Prijetan) di Desa Mlati/Tenggerejo, KecamatanKedungpring,Lamongan,yangdikerjakanpemerintahHindiaBelandapada1910–1916 dan diresmikan tahun 1917, menjadikannya salah satu bendungan tertua di Indonesia yang masih beroperasi hingga sekarang. Bersama Waduk Gondang, Prijetan disebut sebagai dua waduk terbesar di Kabupaten Lamongan.
Jejak Belanda pada Waduk Pridjetan bahkan berlanjut hingga era modern: pada 4 Juli 2018, MenteriLuarNegeriKerajaanBelandaStephanusAbraham(Stef)Blokberkunjungkewaduk tersebut untuk berziarah kemakam kakek buyutnya,Mevr.J.F.A. Dligoor,salahsatu insinyur yangikutmembangunwadukitupadamasakolonialdanwafatpada1930.Kunjungantersebut sekaligusdimanfaatkanuntukmembahaskerjasamaIndonesia–Belandadibidangsumberdaya air, termasuk program beasiswa dan anggaran normalisasi jaringan irigasi. Kisah ini menegaskan bahwa pengelolaan air di Lamongan, dari bendungan kolonial Prijetan hingga Waduk Gondang yang dibangun pemerintah Indonesia satu abad kemudian, merupakan rangkaian panjang upaya menjinakkan banjir dan kekeringan di lembah Bengawan Solo
SUMBER: SoloValleiWerkendanGagasanBesarIrigasiBengawanSoloHilir, https://solovallei.com/sejarah diakses pada hari Jumat, tanggal 21 Agustus 2026 jam 20.09
Utami, F. M., & Artono, A. (2023). Waduk Tertua Masa Hindia Belanda: Pembangunan dan Manfaat Waduk Pridjetan di Lamongan Tahun 1910-1926. Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 13(2). (2)
Kulsum, U. (2015). Perkembangan Waduk Gondang Sebagai Obyek Wisata Tahun19872004.
Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah, 3(2). ANTARA News Jawa Timur, "Kenang sang Kakek, Menlu Belanda akan Kunjungi Waduk Prijetan Lamongan", 28 Juni 2018. https://jatim.antaranews.com/berita/258438/kenang-sangkakek-menlu-belanda-akan-kunjungi-waduk-prijetan-lamongan diakses pada hari Jumat, tanggal 21 Agustus 2026 jam 20.14
