DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN DAERAH

Bupati Lamongan

informasi
Rabu, 09 September 2026
5x dilihat
Foto: Bupati Lamongan

R.A.A. Djojoadinegoro merupakan keturunan dari trah bangsawan lokal yang panjang, tersambung dalam silsilah "Menak Werdati" yang menghubungkan penguasa-penguasa Pasuruan, Bangil, Surabaya, Gresik, hingga Lamongan. Ia memerintah hampir tiga dekade, menandai peralihan Lamongan ke administrasi kolonial modern. Poster mencatat masa jabatannya hingga 1938, namun arsip pengumuman kepegawaian resmi tahun 1936 menyebutkaniadiberhentikansecaraterhormatdaridinasataspermintaansendiri,efektifakhir Desember1936sehinggamasajabatannyasebenarnyaberakhirduatahunlebihawaldariyang tertulis di poster.

SetelahDjojoadinegoropensiun,Lamongansempattanpabupatiselamahampirsetahun.Koran DeIndischeCourantedisi21Oktober1937melaporkanlangsungdarikorespondenLamongan bahwakabarpengangkatanbupatibaruditerimadenganlegasetelahmasakekosonganpanjang tersebut.Penggantinya,PandjiMoeridTjokronegoro,diangkatdarijabatanpatihdiPanarukan menjadi bupati Lamongan pada 1937. Ia terbukti masih aktif menjabat pada Agustus 1941, sebagaimana tercatat dalam berita duka wafatnya Mevrouw Koesmadi, di mana namanya (R.T.A. Moerid Tjokronegoro) tercantum sebagai salah satu pejabat pelayat penting bersama regent-regentKaresidenanSurabayalainnyamenjadibuktiindependenkehadirannyadipuncak pemerintahan menjelang pendudukan Jepang.


Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh Cokrosudirjo dengan gelar "Kenchoo" pada masa pendudukanJepang(1942–1945),laluR.Sukaji(1945–1948)ditengahgejolakrevolusifisik.

PeriodepalingdramatisdatangsaatR.AbdulHamidmenjabat(1948–1949)pada12April1949, di tengahAgresi MiliterBelandaII, iatertangkap Belandadi daerah Deket. Pemerintah militer Republik segera menunjuk R. Soepardan, yang saat itu menjabat Patih Lamongan, sebagai penggantinya.

Soepardan memimpin di masa paling genting: konflik internal pasukan Republik sempat memanas, disusul pertempuran dengan Belanda di Sukodadi dan Kota Lamongan. Di tengah situasiini,timmedisbergerakPalangMerahpimpinandr.Messing-Johnentercatatmenangani rekor 3.080 pasien dalam sehari di Mantoep pada awal Mei 1949, kerja kemanusiaan yang menurutkoranDeVrijePersedisi3Juni1949mendapatpujianlangsungdariregentLamongan, kemungkinanbesarSoepardanyangbarusajamengambilalihtugas.Menariknya,ditengahera revolusi ini, arsip koran Nieuwe Courant edisi 28 September 1949 mencatat nama R.P.M. TjokronegorovanLamonganmunculsebagaikandidatanggotaparlemenNegaraDjawaTimur, negara federal bentukan Belanda hal itu menunjukkan bahwa sementara Bupati Republik memimpinsecaradefactodilapangan,figureks-pejabatkolonialdaritrahTjokronegoromasih terlibatdalamstrukturpolitikfederal,mencerminkandualismekekuasaanLamonganmenjelang pengakuan kedaulatan penuh. Puncaknya, pada 19 Desember 1949, Belanda resmi menyerahkan kekuasaan militer atas Lamongan kepada Republik Indonesia.

Poster mencantumkan R. Ali Affandi menjabat 1958–1960, namun sumber sejarah pemerintahandaerahmencatatversisedikitberbeda:AliAffandyhanyamenjabatsingkatpada 1958 sebagai "Kepala Daerah", sebelum dilanjutkan R. Ismail hingga 1960. R. Soeparngadi kemudian memimpin sepanjang dekade 1960-an yang bergejolak, menjelang dan sesudah peristiwa 1965. Kolonel TNI Chasinoe tercatat di poster menjabat 1969–1974, tetapi dalam buku menunjukkan ia sebenarnya menjabat berkelanjutan hingga 1979 yang pada awalnya berpangkat Letnan Kolonel, kemudian naik menjadi Kolonel. Hal ini mencerminkan pola era Orde Baru di mana banyak kepala daerah diisi oleh perwira TNI aktif. Tradisi bupati dari kalangan militer berlanjut dengan Kolonel CPM Sutrisno Sudirdjo (1979–1984), sebelum kembali ke kalangan sipil-birokrat lewat Drs. H. Moh. SafiiAsari (1984–1989).

H.R. Mohammad Faried, S.H. kemudian menjabat tiga periode berturut-turut (1989–2000), mencakup masa krisis moneter 1997–1998 dan awal Reformasi. H.Agus Syamsuddin sempat mengisijabatansebagaiPelaksanaTugaspada2004–2005,mengisimasatransisiantaradua


periode kepemimpinan H. Masfuk, S.H., yang memimpin Lamongan dalam dua periode terpisah (1999–2004 dan 2005–2010), dikenal mendorong pembangunan daerah termasuk penataankawasan"bonorowo"yangrawanbanjir.EstafetkemudianditeruskanH.Fadeli,S.H., M.M., yang menjabat dua periode (2010–2015 dan 2016–2021) dengan jeda diisi Pj. Dr. Ir. Wahid Wahyudi, M.T. (2015–2016). Fadeli lahir di Sudangan, Lamongan pada 16 Juli 1955, dan wafat di Surabaya pada 8 Mei 2021, tidak lama setelah menuntaskan periode jabatan keduanya


SUMBER :

Basundoro, P., Kasuma, G., & Rosyid, I. (2017). Sejarah Lamongan dari Masa ke Masa.


Detik.com, "Mantan Bupati Lamongan Fadeli Meninggal Dunia" https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5562779/mantan-bupati-lamonganfadelimeninggal-dunia, diakses pada Hari Sabtu, Tanggal 29 Agustus 2026 Jam 15.04.


De Indische Courant. "Oost-Java Nieuws." Donderdag, 21 October 1937, Vierde Blad II. Stadsnieuws." Soerabaiasch Handelsblad, 19 Augustus 1941, 2e Blad II Mooi werk


van het Roode Kruis." De Vrije Pers, 3 Juni 1949, 1ste Jaargang.


Moord bij Porong." Nieuwe Courant, 28 September 1949, Pagina II. 

DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

  • Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 65, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, Kode Pos 62214
  • dinarpustaka@lamongankab.go.id
  • (0322) 311106
Logo Branding Lamongan
© 2026 Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Lamongan